Rabu, 16 Maret 2011

SINDROMA METABOLIK

SINDROMA METABOLIK

Pendahuluan
Sindroma metabolik adalah suatu kondisi di mana terjadi penurunan sensitivitas jaringan terhadap kerja insulin sehingga terjadi peningkatan sekresi insulin sebagai kompensasi sel beta pankreas. Disfungsi metabolik ini menimbulkan berbagai kelainan dengan konsekuensi klinik yang serius berupa penyakit kardiovaskular diabetes melitus tipe 2, sindrom ovarium polikistik dan perlemakan hati non alkoholik seta penyakit-penyakit lainya. Sindroma ini pertama kali diamati dan dilaporkan pada tahun 1923 yang mengkategorikannya sebagai gabungan dari hipertensi, hiperglikemia, dan gout. Berbagai abnormalitas metabolik lain dikaitkan dengan sindroma ini diantaranya obesitas, mikroalbuminuria, dan abnormalitas fibribolisis dan koagulasi. Prevalensi sindroma metabolik (SM) diperkirakan akan meningkat dalam beberapa waktu belakangan ini. Hal tersebut sangat terkait dengan perubahan pola hidup di masyarakat. Prevalensi SM pada populasi yang berusia 20 -25 tahun keatas di India sekitar 8%, dan di Amerika Serikat sebanyak 24% (Atul, dkk, 2006). Sindroma metabolik juga memiliki dampak yang buruk terhadap prognosis penyakit kardioserebrovaskuler. Penelitian Klein, dkk (2007) memperlihatkan bahwa 21,7% pasien gangguan jantung dengan sindroma metabolik akan mengalami kejadian penyakit karioserebrovaskuler (infark miokard akut, stroke, atau kematian mendadak) ulang dalam waktu pengamatan 6,7 tahun.


Kriteria
Sindrom metabolik dikenal pertama klai sebagai sindrom X yang mengkaitkannya dengan resistensi insulin (Reaven 1988). Namun dalam perkenbangannya, berkembang beberapa kriteria yang sebsenarnya mempunyai tujuan yang sama yaitu mengenali sedini mungkin gejala gangguan metabolik sebelum seseorang jatuh dalam keadaan sakit. Menurut buku panduan dari National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel (ATP III) tahun 2001, terdapat tiga ciri utama kriteria sindroma metabolik, yaitu :
• Lingkar perut pada laki laki lebih dari 102 cm dan lebih dari 88 cm pada perempuan.
• Kadar triglycerida darah lebih dari 150 mg/dl.
• HDL kolesterol lebih rendah dari 40 mg/dl pada laki laki dan 50 mg/dl pada perempuan.
• Tekanan darah diatas 130/85 mmHg.
• Gula darah puasa lebih dari 110 mg/dl.
Kriteria yang diajukan oleh NCEP-ATP III ini lebih banyak digunakan karena antara lain lebih memudahkan dalam mengidentifikasi seseorang dengan sindroma metabolik.
Terdapat sedikit perbedaan kriteria menurut World Health Organization (WHO) yakni :
• Kadar insulin yang tinggi, peningkatan kadar gula darah puasa atau peningkatan kadar gula darah 2 jam setelah makan dengan diikuti oleh sekurang kurangnya 2 kriteria tambahan di bawah ini :
• Kegemukan pada daerah perut dengan rasio antara pinggang dan pinggul lebih dari 0,9, body mass index (BMI) sekurang kurangnya 30 kg/m2 atau lingkar pinggang lebih dari 37 inchi.
• Pada pemeriksaan kolesterol ditemukan kadar triglycerida sekurang kurangnya 150 mg/dl atau HDL kolesterol kurang dari 35 mg/dl.
• Tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg.


Selain itu, terdapat kriteria lainnya seperti dari IDF (International Diabetes Federation) pada tahun 2005 yaitu, kondisi dimana lingkar pinggang (LP) ¬¬> 90 cm untuk pria dan > 80 cm untuk wanita ditambah 2 dari 4 yang tersebut berikut ini: Trigliserid > 150 mg/dl ; ii) Kolesterol-HDL pria < 40 mg/dl dan Kolesterol-HDL wanita < 50 mg/dl ; iii) Tekanan darah > 130/85 mmHg ; iv) Glukosa darah puasa > 100 mg/dl.
Penyebab Sindroma Metabolik
Dari beberapa pendapat ahli menyebutkan bahwa faktor genetik dan lingkunganlah yang memegang peranan penting terjadinya sindroma metabolik.Riwayat keluarga dengan diabetes tipe 2, hipertensi dan penyakit jantung akan meningkatkan kemungkinan seseorang menderita sindroma metabolik. Fator lingkungan yang berperan antara lain kurangnya berolah raga, gaya hidup yang buruk, dan peningkatan berat badan yang terlampau cepat.Sindroma metabolik terjadi pada 5% orang dengan berat badan normal, 22% pada orang dengan kelebihan berat badan dan 60% pada orang yang gemuk. Orang dewasa yang berat badannya meningkat lebih dari 5 kg per tahun akan meningkatkan pula resiko terjadinya sindroma metabolik sekitar 45%.
Jadi, melihat gambaran diatas, kegemukan merupakan faktor resiko yang sangat penting terjadinya sindroma metabolik disamping hal hal berikut :
• Perempuan yang telah memasuki menopause.
• Merokok.
• Mengkonsumsi terlalu banyak karbohidrat.
• Kurang berolah raga.
• Mengkonsumsi minuman beralkohol.
Faktor-faktor tersebut merupakan cirri-ciri dari pola hidup yang “Westernized” (kebarat-baratan) yang dapat memicu timbulnya penyakit yang erat hubungannya dengan pola hidup (“ Life Style Related Disease”) yang terjadi di Indonesia sejak tahun 1980an dan sebagai salah satu contoh yang jelas adalah Sindroma Metabolik.

Menurut Prof. Dr. dr. Askandar Tjokroprawiro, Sp.PD-KEMD, perjalanan SIMET (sindroma metabolik) dapat dibagi menjadi 4 stadium. Dokter yang menjadi kepala Bagian Penyakit Dalam sekaligus juga Kepala Pusat Diabetes dan Nutrisi RSUD Dr Soetomo ini menyebutkan bahwa awal dari timbulnya SIMET. "Pola hidup Barat" atau Westernized seperti gemar mengonsumsi junk food, makanan berlemak dan makanan yang manis-manis. Dalam waktu agak lama, bila kebiasaan buruk ini berlanjut akan mengakibatkan obesitas (stadium dua), terutama yang berbahaya adalah jenis obesitas abdominal. Obesitas jenis ini banyak terjadi pada orang Indonesia. Lemak cenderung lebih mudah ditimbun di daerah perut (peritonium) namun lebih mudah pula untuk mengalami lipolisis sehingga akan terdapat dalam jumlah besar di peredaran darah. Komposisi lemak yang tinggi dalam darah (dislipidemia atherogenik) memicu timbulnya atherosklerosis, kecenderungan trombosis dan kelainan kardiovaskuler lain. Pada stadium tiga mulailah masuk stadium preklinik. Sindroma metabolik pada umumnya mulai terjadi pada stadium ini. Penderita tampak dalam kondisi Pre-DM. Obesitas pada anak juga termasuk dalam stadium ini. Penyakit dengan gejala klinis yang jelas baru manifes pada stadium 4 dimana telah timbul penyakit jantung koroner, DM Tipe 2, Stroke dan lain-lain seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Komplikasi yang mengikuti Sindroma Metabolik
Kegemukan (obesitas), tekanan darah tinggi, diabetes mellitus dan dislipidemia secara sendiri-sendiri sudah sejak lama diketahui sebagai factor resiko terjadinya penyakit jantung koroner. Demikian pula adanya faktor-faktor tersebut secara bersamaan pada seseorang telah sangat dikenal akan jauh meningkatkan kemungkinan terjadinya Penyakit jantung Koroner. Dengan demikian penderita dengan Sindroma Metabolik kemungkinan untuk mendapatkan / terkena penyakit jantung koroner dan penyakit kardiovaskuler lainnya akan meningkat. Sindroma metabolik meningkatkan resiko terjadinya diabetes tipe 2 antara 9 sampai 30 kali pada populasi. Sedangkan resiko terjadinya penyakit jantung meningkat antara 2 sampai 4 kali.
Disamping menyebabkan kedua penyakit diatas, sindroma metabolik juga dapat menyebabkan timbunan lemak pada hati (fatty liver), yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadi sirosis. Ginjal juga akan terkena dampak yakni terjadinya kebocoran protein pada urine yang berpotensi terjadinya kerusakan ginjal.

Penatalaksanaan
Atas dasar pengalaman, terjadinya ‘Life Style Related Disease’ melalui urutan 4 stadium yaitu :
1. Stadium Life Style Westernized (Nutrition and physical actifity)
2. Stadium Obesitas (khususnya Obesitas Abdominal)
3. Stadium Sindroma Metabolik
4. Stadium Penyakit Kardiovaskuler (Jantung koroner, stroke)
Agar supaya Sindroma Metabolik tidak menjadi Penyakit Kardiovaskuler perlu dilakukan antisipasi pada Sindroma Metabolik, dengan penanganan (pengobatan) yang baik. Tentunya dengan tidak mengabaikan intervensi pada stadium 1 dan 2.Faktor resiko yang memicu perkembangan Sindroma Metabolik adalah kelebihan berat badan dan obesitas, inaktifitas fisik dan diet aterogenik (tinggi kolesterol dan lemak jenuh). Semua petunjuk (guidelines) terkini penatalaksanaan komponen Sindroma Metabolik menekankan modifikasi gaya hidup ( Life style modification) yaitu penurunan berat badan dan meningkatkan aktivitas fisik sebagai pengganti pengobatan lini pertama (intervensi stadium 1,2 ).
Guidelines/ petunjuk penanganan obesitas menekankan pentingnya penurunan berat badan dengan cara mengubah perilaku untuk menurunkan asupan kalori dan meningkatkan aktifitas fisik. Diet yang efektif dan sehat untuk penurunan berat badan jangka panjang adalah menurunkan diet energi, terdiri dari pengurangan kalori derajat sedang yaitu 500-1000 kalori / hari.Olah raga dan fitness secara teratur menunjukkan perbaikan beberapa factor resiko metabolic dan dikaitkan dengan penurunan resiko berkembangnya penyakit kronik. Inaktifitas fisik merupakan kontributor penting berkembangnya Sindroma metabolic.
Guideline aktivitas fisik terkini merekomendasikan latihan sedang, teratur dan praktis. Rekomendasi latihan standar adalah aktifitas fisik intensitas sedang minimal 30 menit/hari.Guideline diet untuk Sindroma Metabolik merekomendasikan komposisi diet secara umum dengan menganjurkan asupan rendah lemak jenuh dan kolesterol, mengurangi konsumsi gula sederhana dan meningkatkan asupan buah-buahan, sayur dan padi-padian (whole grain).
Faktor resiko utama yang tidak dapat diatasi dengan perubahan gaya hidup harus ditatalaksanakan dengan terapi specific untuk memperbaiki dislipidemia, resistensi insulin dan hipertensi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar